Pimpinan Media Pewarta se-Nusantara: Kritik Harus Mengedepankan Adab dan Etika

Sumsel – Pimpinan Media Pewarta se-Nusantara, M. Abbas Umar, menegaskan bahwa penyampaian kritik sebagai bagian dari kebebasan berpendapat harus tetap mengedepankan adab, etika, dan rasa tanggung jawab sosial.

Pernyataan tersebut disampaikan saat dirinya dimintai tanggapan terkait polemik yang muncul akibat pernyataan Tiyo dari Pemuda Jawa Timur yang belakangan menjadi perbincangan di tengah masyarakat.

Menurut M. Abbas Umar, kritik merupakan elemen penting dalam kehidupan demokrasi. Namun demikian, kritik yang disampaikan hendaknya tidak mengabaikan norma kesopanan, nilai budaya, serta penghormatan terhadap pihak lain agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun konflik yang tidak diperlukan.

“Sebagai warga negara, kita memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan kritik. Namun, kritik yang baik harus dilandasi adab dan etika. Dengan cara itu, pesan yang ingin disampaikan akan lebih mudah diterima dan tidak menimbulkan perpecahan,” ujar M. Abbas Umar.

Ia menambahkan bahwa di era digital saat ini, masyarakat dituntut lebih bijak dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar. Verifikasi terhadap fakta dan sumber informasi dinilai penting sebelum seseorang menyampaikan opini atau kritik di ruang publik.

“Kita harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Oleh karena itu, setiap pernyataan yang disampaikan harus berdasarkan fakta yang jelas, dipertimbangkan secara matang, dan tetap menjunjung tinggi rasa hormat terhadap sesama,” katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran filsuf Tiongkok Konfusius, yang menekankan pentingnya kesantunan dan moralitas dalam komunikasi. Konfusius pernah mengajarkan bahwa “orang bijak berhati-hati dalam perkataannya”, sebuah prinsip yang mengingatkan bahwa ucapan memiliki dampak besar terhadap kehidupan sosial.

Hal serupa juga disampaikan filsuf Yunani Socrates melalui konsep Triple Filter Test, yaitu mendorong seseorang untuk memastikan bahwa apa yang akan disampaikan mengandung kebenaran, kebaikan, dan manfaat. Prinsip tersebut hingga kini masih relevan dalam menyikapi arus informasi dan perdebatan di ruang publik.

Sementara itu, filsuf Jerman Immanuel Kant menegaskan bahwa manusia harus memperlakukan sesamanya sebagai tujuan, bukan sekadar alat. Dalam konteks penyampaian kritik, pandangan ini mengandung pesan bahwa setiap orang tetap harus dihormati martabatnya meskipun menjadi objek kritik.

Hingga berita ini ditulis, pihak terkait dari Pemuda Jawa Timur belum memberikan tanggapan resmi mengenai polemik yang berkembang. Oleh karena itu, media ini tetap membuka ruang bagi semua pihak untuk memberikan klarifikasi atau penjelasan guna menjaga prinsip keberimbangan informasi.

Berbagai kalangan berharap peristiwa ini dapat menjadi pembelajaran bersama bahwa kebebasan berpendapat dan menyampaikan kritik perlu disertai tanggung jawab moral, etika komunikasi, serta penghormatan terhadap nilai-nilai kebersamaan demi terciptanya kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan demokratis. (rls/Tim Redaksi)

Pos terkait