Pelukan yang Tak Pernah Diberikan Akan Selalu Dirindukan

Oleh: Agung Jepriansyah, Peraih Penghargaan Jurnalistik PPWI Nasional Pertama dari Sumatera Selatan Tahun 2020

Sumatera Selatan – Setiap orang pada dasarnya dapat menjadi orang tua. Secara biologis, hal itu bukanlah sesuatu yang sulit. Namun, menjadi orang tua yang sesungguhnya bukan sekadar menghadirkan seorang anak ke dunia, melainkan menghadirkan kasih sayang, perhatian, tanggung jawab, dan keteladanan yang akan menjadi bekal bagi perjalanan hidup seorang manusia.

Menjadi orang tua bukan hanya tentang melahirkan atau membesarkan seorang anak, tetapi tentang memilih untuk hadir dalam setiap proses tumbuh kembangnya. Sebab, bagi seorang anak, kehadiran yang tulus sering kali jauh lebih berarti daripada apa pun yang dapat diberikan secara materi.

Dalam kehidupan, tidak semua anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dengan pelukan yang utuh dari orang tuanya. Ada yang harus menjalani kehidupan tanpa salah satu atau kedua orang tuanya karena takdir, keadaan, maupun berbagai persoalan kehidupan yang tidak selalu mudah dipahami. Setiap anak memiliki cerita yang berbeda, tetapi satu hal yang sama, mereka semua membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman untuk tumbuh menjadi manusia yang utuh.

Anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran orang tua atau tanpa limpahan kasih sayang yang cukup tetap akan tumbuh besar. Mereka akan belajar berjalan, berbicara, bekerja, bahkan mungkin meraih berbagai keberhasilan dalam hidupnya. Namun, ada kebutuhan emosional yang terkadang tidak dapat tergantikan. Sebab, ada kerinduan yang diam-diam tinggal di dalam hati seorang anak yang tidak pernah benar-benar merasakan pelukan, perhatian, dan kasih sayang yang semestinya ia terima.

Dalam ilmu psikologi perkembangan, hubungan emosional antara anak dan pengasuh utamanya merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter dan kesehatan mental seseorang. Anak yang tumbuh dengan kasih sayang dan rasa aman cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola emosi, membangun hubungan sosial yang sehat, serta menumbuhkan empati kepada sesama.

Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam keterbatasan kasih sayang membutuhkan dukungan yang lebih besar dari lingkungan agar ia tetap mampu mengenali dan mengekspresikan emosinya secara sehat. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena setiap anak berhak mendapatkan ruang untuk dicintai dan dipahami.

Psikolog John Bowlby melalui Attachment Theory menjelaskan bahwa ikatan emosional yang aman antara anak dan orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologisnya di masa depan. Kehadiran orang tua bukan hanya soal memenuhi kebutuhan fisik dan materi, tetapi juga menyediakan rasa aman, penerimaan, dan dukungan emosional yang konsisten.

Pandangan serupa pernah disampaikan oleh Aristoteles yang mengatakan, “Mendidik pikiran tanpa mendidik hati bukanlah pendidikan sama sekali.” Pemikiran ini mengingatkan kita bahwa membesarkan anak bukan hanya tentang menjadikannya cerdas, tetapi juga membentuknya menjadi manusia yang memiliki hati, empati, dan tanggung jawab terhadap sesama.

Sementara itu, Jean-Jacques Rousseau meyakini bahwa anak-anak lahir dengan potensi kebaikan dalam dirinya dan lingkunganlah yang sangat memengaruhi perkembangan mereka. Orang tua menjadi lingkungan pertama yang dikenal seorang anak. Dari merekalah seorang anak belajar tentang cinta, kejujuran, rasa aman, serta bagaimana menghargai dirinya dan orang lain.

Konfusius pun sejak ribuan tahun lalu telah menekankan pentingnya keteladanan dalam keluarga. Menurutnya, keharmonisan masyarakat berawal dari keluarga yang saling mencintai, menghormati, dan menjalankan tanggung jawab moralnya dengan penuh ketulusan. Nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga akan menjadi cerminan bagi kehidupan anak di masa depan.

Namun, menjadi orang tua sejatinya tidak selalu ditentukan oleh hubungan darah maupun status pernikahan. Bahkan, seseorang yang tidak menikah dan tidak memiliki anak kandung pun dapat menjadi orang tua dalam makna yang sesungguhnya. Banyak di antara mereka yang memilih mengabdikan hidupnya untuk merawat dan membesarkan anak asuh, anak yatim, atau anak-anak yang membutuhkan kasih sayang dan pendidikan.

Kasih sayang tidak mengenal hubungan biologis. Seorang anak tidak hanya membutuhkan seseorang yang melahirkannya, tetapi juga seseorang yang hadir ketika ia membutuhkan pelukan, nasihat, pendidikan, dan dukungan untuk tumbuh menjadi manusia yang baik.

Dalam kehidupan, kita juga menyaksikan banyak anak yang dibesarkan dengan penuh cinta oleh kakek dan neneknya, paman dan bibinya, orang tua angkat, ataupun orang-orang yang dengan tulus memilih menjadi pengasuh dan pendidik bagi mereka. Mungkin nama mereka tidak tercatat sebagai ayah atau ibu dalam dokumen administrasi negara, tetapi di dalam hati seorang anak, merekalah orang tua yang sesungguhnya.

Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil memiliki pengaruh jangka panjang terhadap kepribadian seseorang. Kehangatan kasih sayang yang diterima seorang anak dapat menjadi bekal yang menguatkannya sepanjang hidup. Sebaliknya, kekosongan emosional yang dialami pada masa kecil sering kali menjadi kerinduan yang terus dibawa hingga dewasa.

Meski demikian, tidak semua anak yang tumbuh tanpa kehadiran orang tua atau kasih sayang yang utuh akan menjadi pribadi yang rapuh. Banyak di antara mereka yang justru tumbuh menjadi manusia yang tangguh, penuh empati, dan berjuang keras untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang yang mereka cintai. Mereka adalah bukti bahwa luka masa kecil bukanlah akhir dari sebuah perjalanan hidup.

Karena itu, masyarakat perlu menjadi bagian dari lingkungan yang penuh kasih dan dukungan bagi anak-anak yang tumbuh dalam berbagai keterbatasan. Yang mereka butuhkan bukanlah penilaian, melainkan kesempatan untuk tumbuh dengan baik, mendapatkan pendidikan yang layak, serta merasakan bahwa mereka juga dicintai dan dihargai.

Pada akhirnya, menjadi orang tua bukanlah tentang status sosial, hubungan darah, ataupun kemampuan untuk memiliki anak. Menjadi orang tua adalah tentang komitmen untuk hadir, melindungi, mendidik, dan mencintai seorang anak dengan sepenuh hati.

Anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Ketika seseorang menghadirkan kehidupan ke dunia ini atau memilih menjadi pengasuh bagi seorang anak, maka pada saat yang sama ia menerima amanah yang mulia untuk menjaga tumbuh kembang dan kebahagiaan anak tersebut.

Sebab sejatinya, menjadi orang tua itu mudah secara biologis dan status. Namun, menjadi orang tua yang kehadirannya selalu dirindukan, yang pelukannya menjadi tempat pulang, dan yang kasih sayangnya terus hidup dalam ingatan seorang anak hingga dewasa, adalah sebuah kemuliaan yang tidak ternilai.

Karena pada akhirnya, seorang anak mungkin akan melupakan banyak hal dalam hidupnya, tetapi ia tidak akan pernah melupakan siapa yang pernah memeluknya dengan penuh cinta ketika dunia terasa begitu berat baginya. (rls/Red)

Pos terkait